Senin, 29 Desember 2008

Kebiadaban Zionis

Akhir tahun 1429 H tergores dengan peristiwa tragis dan miris bagi umat muslim. Lebih dari 300 umat muslim Palistiwa dibantai oleh tentara bangsat israel. Kejadian ini dikutuk oleh negara-negara Islam. Namun mana negara-negara barat yang notabene mengutamakan HAM yang tatkala Mumbai diserang mereka meradang. Namun tatkala bangsat israel membantai umat muslim mereka seolah merestui tindakan bangsat israel dan menyalahkan Bangsa Mujahid Palestina yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini. Polisi dunia yang mulai renta juga melegalkan tindakan bangsat israel. Duh Allah sampai kapanb ujian ini akan berakhir?

Israel dari jaman sejarah sampai sekarang memang terkenal sebagai bangsa yang culas. Bahkan saking culasnya.

Rabu, 24 Desember 2008

Pembelajaran yang Berpusat Pada Siswa

Kemajuan jaman melesat dengan amat cepatnya. Kemajuan tersebut diiringi dengan kemajuan disegala bidang. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Entah sudah berapa banyak modl pembelajaran yang telah diciptakab, diujicobakan, dan dilaksanakan, namaun semua itu ternyata belum mampu menghasilkan mutu pendidikan seperti yang diinginkan oleh semua pihak.




Banyak pihak yang menganggap bahwa pendidikan di Indonesia kurang berhasil. Hal ini dilihat dari produknya yang kurang diterima di dunia kerja. Banyak penduduk Indonesia yang bergelar sarjana namun SDM nya tidak sesuai dengan tingkat kesarjanaannya. Menjamurnya Perguruan Tinggi yang memberikan kemudahan bagi siapa saja yang bersedia menjadi mahasiswanya asal bersedia menyediakan biaya yang sebenarnya sangat murah. Bahkan penulis pernah mendengar juga ditawari untuk meraih gelar S2 dengan cara mendaftar kesuatu lembaga pendidikan yang sanggup memberikan gelar Mpd hanya dengan membayar 25 jt dan mengikuti beberapa kali pertemuan perkuliahan saja.







Fenomena di atas adalah salah satu contoh dari ketidak beresan dari pendidikan di Indonesia yang ingin serba cepat dalam menyelesaikan segala hal. Segala sesuatu yang instan hasilnyapun tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mengapa pemerintah seolah-olah membiarkan praktek seperti ini? Begitu mudahnya mendirikan lembaga pendidikan dan lemahnya pengawasan terhadap setiap lembaga tersebut mengakibatkan output dari lembaga tersebut menjadi minim dari segi SDM nya. Seharusnya pemerintah memberikan persyaratan yang ketat dalam pendirian sebuah lembaga pendidikan. Buat apa banyak lembaga pendidikan, jika mutunya kurang. Lebih bagus dengan sedikitnya lembaga pendidikan tetapi menghasilkan mutu lulusan yang bermutu tinggi. Kualitas lebih utama daripada kuantitas.



Lantas bagaimana dengan model pembelajaran di sekolah-sekolah saat ini?

Setiap lembaga pendidikan keguruan/kependidikan pasti memberikan bekal yang dianggap sudah memenuhi kebutuhan untuk menghadapi siswa di kelas.

Para calon guru/pendidik dibekali ilmu kependidikan yang memadaisebelum terjun langsung di dunia pendidikan. Berbagai metode pembelajaran dipelajari dan dipraktekan. Sebagian besar metode pembelajaran yang diterapkan adalah pendeketan yang berpusat pada siswa.



Diera digital ini usang rasanya jika guru menganggap dirinya sebagai sutradara sekalian pemain inti dalam proses pembelajaran di kelas. Namun jangan dikira kalau model pembelajaran jaman dulu sudah 99% ditinggalkan oleh para pendidik. Guru akan merasa kesulitan dan kerepotan ketika harus mempersiapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Itu disebabkan karena guru tidak bau berinovasi atau berubah dan menganggap bahwa pembelajaran yang benar adalah pembelajaran sebagaimana yang ia terima dibangku kuliah. Guru tersebut tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitar yang sudah berubah jauh dari jamannya dulu. Guru yang seperti ini akan membawa anak didiknya kembali kejaman gurunya. Kuda yang sudah makan roti disuruh gigit besi lagi.



Pembelajaran modern harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa sekarang. Alat pembelajaran yang digunakan pun harus menyesuaikan diri. Sudah tidak jamannya lagi dengan KBM yang banyak menugaskan siswa untuk mencatat. Pendidikan yang berpusat pada siswalah yang seharusnya diterapkan sejak jaman dulu, apalagi sekarang. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar, dan guru harus bisa menahan diri untuk hiper aktif dan memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Hasil pembelajaran melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa jelas akan lebih bermakna. Siswa akan mengenang dan selalu mengingat setiap kegiatan yang selalu melibatkan dirinya.

Lembar Kerja siswa adalah salah satu alat pembelajaran yang sudah lama sekali dikenal. Namun penerapannya kadang-kadang tidak sesuai dengan seharusnya. LKS hanya sekedar lembaran kerja yang harus diisi oleh siswa tanpa melihat bagaimana proses pengisiannya dan tindak lanjut dari LKS tersebut.
Alangkah indah dan hidupnya kelas ketika siswa bekerja kelompok dalam mengerjakan LKS. Bagaimana aktifitas siswa dapat kita amati dan menjadi bahan penilaian kinerja siswa dalam kelompok. Bagaimana siswa mempresentasikan hasil LKS nya di depan kelas dan ditanggapi oleh siswa/kelompok lain, dan diharapkam pada session ini terjadi perdebatan yang seru antara kelompok penyanggah dan kelompok penyampai materi sebelum ditemukan suatu kesepakatan atau ketidak sepakatan. Guru sebagai moderator harus bisa menghidupkan suasana dan meredamnya jika keadaan sudah di luar kendali masing-masing kelompok.
Model pembelajaran seperti ini pasti akan sangat menarik.