Akhir tahun 1429 H tergores dengan peristiwa tragis dan miris bagi umat muslim. Lebih dari 300 umat muslim Palistiwa dibantai oleh tentara bangsat israel. Kejadian ini dikutuk oleh negara-negara Islam. Namun mana negara-negara barat yang notabene mengutamakan HAM yang tatkala Mumbai diserang mereka meradang. Namun tatkala bangsat israel membantai umat muslim mereka seolah merestui tindakan bangsat israel dan menyalahkan Bangsa Mujahid Palestina yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini. Polisi dunia yang mulai renta juga melegalkan tindakan bangsat israel. Duh Allah sampai kapanb ujian ini akan berakhir?
Israel dari jaman sejarah sampai sekarang memang terkenal sebagai bangsa yang culas. Bahkan saking culasnya.
Senin, 29 Desember 2008
Rabu, 24 Desember 2008
Pembelajaran yang Berpusat Pada Siswa
Kemajuan jaman melesat dengan amat cepatnya. Kemajuan tersebut diiringi dengan kemajuan disegala bidang. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Entah sudah berapa banyak modl pembelajaran yang telah diciptakab, diujicobakan, dan dilaksanakan, namaun semua itu ternyata belum mampu menghasilkan mutu pendidikan seperti yang diinginkan oleh semua pihak.
Banyak pihak yang menganggap bahwa pendidikan di Indonesia kurang berhasil. Hal ini dilihat dari produknya yang kurang diterima di dunia kerja. Banyak penduduk Indonesia yang bergelar sarjana namun SDM nya tidak sesuai dengan tingkat kesarjanaannya. Menjamurnya Perguruan Tinggi yang memberikan kemudahan bagi siapa saja yang bersedia menjadi mahasiswanya asal bersedia menyediakan biaya yang sebenarnya sangat murah. Bahkan penulis pernah mendengar juga ditawari untuk meraih gelar S2 dengan cara mendaftar kesuatu lembaga pendidikan yang sanggup memberikan gelar Mpd hanya dengan membayar 25 jt dan mengikuti beberapa kali pertemuan perkuliahan saja.
Fenomena di atas adalah salah satu contoh dari ketidak beresan dari pendidikan di Indonesia yang ingin serba cepat dalam menyelesaikan segala hal. Segala sesuatu yang instan hasilnyapun tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mengapa pemerintah seolah-olah membiarkan praktek seperti ini? Begitu mudahnya mendirikan lembaga pendidikan dan lemahnya pengawasan terhadap setiap lembaga tersebut mengakibatkan output dari lembaga tersebut menjadi minim dari segi SDM nya. Seharusnya pemerintah memberikan persyaratan yang ketat dalam pendirian sebuah lembaga pendidikan. Buat apa banyak lembaga pendidikan, jika mutunya kurang. Lebih bagus dengan sedikitnya lembaga pendidikan tetapi menghasilkan mutu lulusan yang bermutu tinggi. Kualitas lebih utama daripada kuantitas.
Lantas bagaimana dengan model pembelajaran di sekolah-sekolah saat ini?
Setiap lembaga pendidikan keguruan/kependidikan pasti memberikan bekal yang dianggap sudah memenuhi kebutuhan untuk menghadapi siswa di kelas.
Para calon guru/pendidik dibekali ilmu kependidikan yang memadaisebelum terjun langsung di dunia pendidikan. Berbagai metode pembelajaran dipelajari dan dipraktekan. Sebagian besar metode pembelajaran yang diterapkan adalah pendeketan yang berpusat pada siswa.
Diera digital ini usang rasanya jika guru menganggap dirinya sebagai sutradara sekalian pemain inti dalam proses pembelajaran di kelas. Namun jangan dikira kalau model pembelajaran jaman dulu sudah 99% ditinggalkan oleh para pendidik. Guru akan merasa kesulitan dan kerepotan ketika harus mempersiapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Itu disebabkan karena guru tidak bau berinovasi atau berubah dan menganggap bahwa pembelajaran yang benar adalah pembelajaran sebagaimana yang ia terima dibangku kuliah. Guru tersebut tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitar yang sudah berubah jauh dari jamannya dulu. Guru yang seperti ini akan membawa anak didiknya kembali kejaman gurunya. Kuda yang sudah makan roti disuruh gigit besi lagi.
Pembelajaran modern harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa sekarang. Alat pembelajaran yang digunakan pun harus menyesuaikan diri. Sudah tidak jamannya lagi dengan KBM yang banyak menugaskan siswa untuk mencatat. Pendidikan yang berpusat pada siswalah yang seharusnya diterapkan sejak jaman dulu, apalagi sekarang. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar, dan guru harus bisa menahan diri untuk hiper aktif dan memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Hasil pembelajaran melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa jelas akan lebih bermakna. Siswa akan mengenang dan selalu mengingat setiap kegiatan yang selalu melibatkan dirinya.
Lembar Kerja siswa adalah salah satu alat pembelajaran yang sudah lama sekali dikenal. Namun penerapannya kadang-kadang tidak sesuai dengan seharusnya. LKS hanya sekedar lembaran kerja yang harus diisi oleh siswa tanpa melihat bagaimana proses pengisiannya dan tindak lanjut dari LKS tersebut.
Alangkah indah dan hidupnya kelas ketika siswa bekerja kelompok dalam mengerjakan LKS. Bagaimana aktifitas siswa dapat kita amati dan menjadi bahan penilaian kinerja siswa dalam kelompok. Bagaimana siswa mempresentasikan hasil LKS nya di depan kelas dan ditanggapi oleh siswa/kelompok lain, dan diharapkam pada session ini terjadi perdebatan yang seru antara kelompok penyanggah dan kelompok penyampai materi sebelum ditemukan suatu kesepakatan atau ketidak sepakatan. Guru sebagai moderator harus bisa menghidupkan suasana dan meredamnya jika keadaan sudah di luar kendali masing-masing kelompok.
Model pembelajaran seperti ini pasti akan sangat menarik.
Banyak pihak yang menganggap bahwa pendidikan di Indonesia kurang berhasil. Hal ini dilihat dari produknya yang kurang diterima di dunia kerja. Banyak penduduk Indonesia yang bergelar sarjana namun SDM nya tidak sesuai dengan tingkat kesarjanaannya. Menjamurnya Perguruan Tinggi yang memberikan kemudahan bagi siapa saja yang bersedia menjadi mahasiswanya asal bersedia menyediakan biaya yang sebenarnya sangat murah. Bahkan penulis pernah mendengar juga ditawari untuk meraih gelar S2 dengan cara mendaftar kesuatu lembaga pendidikan yang sanggup memberikan gelar Mpd hanya dengan membayar 25 jt dan mengikuti beberapa kali pertemuan perkuliahan saja.
Fenomena di atas adalah salah satu contoh dari ketidak beresan dari pendidikan di Indonesia yang ingin serba cepat dalam menyelesaikan segala hal. Segala sesuatu yang instan hasilnyapun tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mengapa pemerintah seolah-olah membiarkan praktek seperti ini? Begitu mudahnya mendirikan lembaga pendidikan dan lemahnya pengawasan terhadap setiap lembaga tersebut mengakibatkan output dari lembaga tersebut menjadi minim dari segi SDM nya. Seharusnya pemerintah memberikan persyaratan yang ketat dalam pendirian sebuah lembaga pendidikan. Buat apa banyak lembaga pendidikan, jika mutunya kurang. Lebih bagus dengan sedikitnya lembaga pendidikan tetapi menghasilkan mutu lulusan yang bermutu tinggi. Kualitas lebih utama daripada kuantitas.
Lantas bagaimana dengan model pembelajaran di sekolah-sekolah saat ini?
Setiap lembaga pendidikan keguruan/kependidikan pasti memberikan bekal yang dianggap sudah memenuhi kebutuhan untuk menghadapi siswa di kelas.
Para calon guru/pendidik dibekali ilmu kependidikan yang memadaisebelum terjun langsung di dunia pendidikan. Berbagai metode pembelajaran dipelajari dan dipraktekan. Sebagian besar metode pembelajaran yang diterapkan adalah pendeketan yang berpusat pada siswa.
Diera digital ini usang rasanya jika guru menganggap dirinya sebagai sutradara sekalian pemain inti dalam proses pembelajaran di kelas. Namun jangan dikira kalau model pembelajaran jaman dulu sudah 99% ditinggalkan oleh para pendidik. Guru akan merasa kesulitan dan kerepotan ketika harus mempersiapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Itu disebabkan karena guru tidak bau berinovasi atau berubah dan menganggap bahwa pembelajaran yang benar adalah pembelajaran sebagaimana yang ia terima dibangku kuliah. Guru tersebut tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitar yang sudah berubah jauh dari jamannya dulu. Guru yang seperti ini akan membawa anak didiknya kembali kejaman gurunya. Kuda yang sudah makan roti disuruh gigit besi lagi.
Pembelajaran modern harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa sekarang. Alat pembelajaran yang digunakan pun harus menyesuaikan diri. Sudah tidak jamannya lagi dengan KBM yang banyak menugaskan siswa untuk mencatat. Pendidikan yang berpusat pada siswalah yang seharusnya diterapkan sejak jaman dulu, apalagi sekarang. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar, dan guru harus bisa menahan diri untuk hiper aktif dan memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Hasil pembelajaran melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa jelas akan lebih bermakna. Siswa akan mengenang dan selalu mengingat setiap kegiatan yang selalu melibatkan dirinya.
Lembar Kerja siswa adalah salah satu alat pembelajaran yang sudah lama sekali dikenal. Namun penerapannya kadang-kadang tidak sesuai dengan seharusnya. LKS hanya sekedar lembaran kerja yang harus diisi oleh siswa tanpa melihat bagaimana proses pengisiannya dan tindak lanjut dari LKS tersebut.
Alangkah indah dan hidupnya kelas ketika siswa bekerja kelompok dalam mengerjakan LKS. Bagaimana aktifitas siswa dapat kita amati dan menjadi bahan penilaian kinerja siswa dalam kelompok. Bagaimana siswa mempresentasikan hasil LKS nya di depan kelas dan ditanggapi oleh siswa/kelompok lain, dan diharapkam pada session ini terjadi perdebatan yang seru antara kelompok penyanggah dan kelompok penyampai materi sebelum ditemukan suatu kesepakatan atau ketidak sepakatan. Guru sebagai moderator harus bisa menghidupkan suasana dan meredamnya jika keadaan sudah di luar kendali masing-masing kelompok.
Model pembelajaran seperti ini pasti akan sangat menarik.
Rabu, 17 September 2008
Puasa di Bulan Ramadhan
Mulai tanggal 1 September 2008 yang lalu seluruh umat muslim seantero dunia mulai melaksanakan puasa Ramadhan. Bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu dan dirindukan oleh semua umat muslim (yang taat). Kewajiban ini merupakan pelaksanaan dari salah satu rukun Islam yang ada lima perkara. Melaksanakan puasa merupakan implementasi dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita. Semenjak imsyak hingga dikumandangkannya adzan maghrib umat yang berpuasa harus memperhatikan segala hal agar puasanya benar-benar sesuai dengan syariatnya. Disini kita diharapkan ikut merasakan yang dirasakan oleh kaum dhuafa. Sudah menjadi suratan Ilahi bahwa dimuka bumi ini senantiasa ada manusia-manusia yang kurang beruntung dalam menjalani kehidupannya, sehingga dalam pemenuhannya sering tidak tercukupi.Dengan berpuasa kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Rasa lapar dan dahaga harus kita tahan hingga adzan maghrib berkumandang. Puasa butuh implementasi yang lebih menyeluruh, bukan sekedar menahan rasa haus dan lapar saja. Ditengah dahaga dan lapar q
Jumat, 05 September 2008
Guru,siswa SDN Menteng 03 dan Presiden Intel
Rabu, 03 September 2008
HARY PUJIANTO NUNGGU GILIRAN
Berpuasa Ramadhan
Hari ini adalah hari keempat di bulan yang penuh berkah dan rahmah. Umat muslim sedunia melaksanakan ibadah berpuasa selama sebulan penuh termasuk aku. Dengan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan kita akan mendapatkan kenikmatan tersendiri. Nikmat yang pertama adalah nikmat sehat. Dengan berpuasa kita akan mengatur jadwal makan kita dengan teratur. Penyakit mag dapat terhindar dengan sendirinya. Hal ini sudah banyak terbukti. Ketika melaksanakan shalat tarawih dan witir, secara tak langsung kita melaksanakan olahraga, terutama menggerakkan persendian kita. Nikmat kedua adalah nikmat Iman. Ketika melaksanakan ibadah puasa, kita akan berusaha untuk menahan diri dari perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Dan selama melaksanakan ibadah, kita akan banyak berusaha menambah amal kebaikan dengan banyak-banyak berdoa dan berdzikir.
Jumat, 15 Agustus 2008
Menteng 03 In Metro TV
Pada tanggal 15 Aguatus 2008, pembelajaran E-LEarning di SDN Menteng 03 diliput oleh Metro TV. Hary Pujianto, S.PD.SD sedang mengajar SAIN di kelas VI tentang Ciri Khusus Makhluk Hidup. Setelah anak-anak memperhatikan penjelasan guru dengan bantuan slide show, siswa mengerjakan LKS secara berkelompok. Siswa mencari materi dari internet untuk menyelesaikan LKS. Setelah selesai secara bergiliran, masing-masing kelompok dengan diwakili oleh salah satu siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kegiatan belajar berjalan dengan baik sebagaimana biasanya. Kegiatan ini akan ditayangkan pada tanggal 17 Agustus 2008 pukul 05.00-06.00
Kamis, 14 Agustus 2008
Hari Pramuka di SDN Menteng 03
SHari ini gugus depan yang berada di SDN Menteng 03 mengadakan upacara peringatan hari ulang tahu pramuka yang ke 47. Upacara yang berjalan dengan khidmad di bawah pimpinan Supri Riyadi, S.Pd.SD.
Upacara yang diikuti oleh kelompok siaga terap dan penggalang ramu berjalan dengan baik meskipun panas menyengat.
Supri riyadi selaku pembina upacara menekankan perlunya kedisiplinan sejak dini.
Kedisiplinan adalah sikap teguh terhadap aturan yang berlaku meskipun tanpa pengawasan.
Kedisiplinan merupakan sikap yang sudah banyak sekali ditinggalkan oleh anak bangsa Indonesia.
Ada yang menganggap bahwa kedisiplinan mengekang kebebasan.
Kami selaku pendidik di Sekolah Dasar senantiasa mengajarkan penerapan kedisiplinan dalm segala lini kehidupan. Pembiasaan hidup disi[lin semenjak dini akan berdampak cukup banyak dengan sikap manusia dewasa yang akan datang.
Pramuka adalah gerakan yang bertumpu pada sikap rela berkorban tabah dan berdisiplin.
Anggota pramuka diharapkan senantiasa menerapkan jiwa-jiwa kepramukaan dalam kehidupan sehari-hari.
Upacara yang diikuti oleh kelompok siaga terap dan penggalang ramu berjalan dengan baik meskipun panas menyengat.
Supri riyadi selaku pembina upacara menekankan perlunya kedisiplinan sejak dini.
Kedisiplinan adalah sikap teguh terhadap aturan yang berlaku meskipun tanpa pengawasan.
Kedisiplinan merupakan sikap yang sudah banyak sekali ditinggalkan oleh anak bangsa Indonesia.
Ada yang menganggap bahwa kedisiplinan mengekang kebebasan.
Kami selaku pendidik di Sekolah Dasar senantiasa mengajarkan penerapan kedisiplinan dalm segala lini kehidupan. Pembiasaan hidup disi[lin semenjak dini akan berdampak cukup banyak dengan sikap manusia dewasa yang akan datang.
Pramuka adalah gerakan yang bertumpu pada sikap rela berkorban tabah dan berdisiplin.
Anggota pramuka diharapkan senantiasa menerapkan jiwa-jiwa kepramukaan dalam kehidupan sehari-hari.
Selasa, 12 Agustus 2008
KORUPSI DI KOPERASI SEKOLAH ?
Semenjak dibentuknya KPK di Indonesia, gerakan para koruptor semakin sempit saja. Kita bersyukur jika korupsi benar-benar terberantas dari muka bumi tercinta ini!
Tapi apa jadinya jika batasan korupsi tidak ada. Sebagai contoh, di sekolah kami memiliki sebuah koperasi yang sudah beroperasi berpuluh tahun lamanya. Tetapi hari ini kepala sekolah kami menyetop transaksi di koperasi sekolah karena adanya larangan penjualan buku. Yang koperasi sekolah kami persiapkan adalah keperluan sekolah semisal alat tulis. Dan kami melakukan itu untuk menerapkan salah satu kompetensi dasar tentang perekonomian.
Haruskah koperasi sekolah harus ditutup?
Tidak bolehkah koperasi mengambil keuntungan?
Koperasi memudahkan siswa dalam memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kalaupun koperasi tidak ada, siswa akan semakin kerepotan untuk mencari alat tulis yang dibutuhkannya.
Kalau koperasi sekolah tidak diperkenankan mencari keuntungan, lantas bagaimana koperasi akan bisa membagikan SHU?
Bagaimana nih?
Tapi apa jadinya jika batasan korupsi tidak ada. Sebagai contoh, di sekolah kami memiliki sebuah koperasi yang sudah beroperasi berpuluh tahun lamanya. Tetapi hari ini kepala sekolah kami menyetop transaksi di koperasi sekolah karena adanya larangan penjualan buku. Yang koperasi sekolah kami persiapkan adalah keperluan sekolah semisal alat tulis. Dan kami melakukan itu untuk menerapkan salah satu kompetensi dasar tentang perekonomian.
Haruskah koperasi sekolah harus ditutup?
Tidak bolehkah koperasi mengambil keuntungan?
Koperasi memudahkan siswa dalam memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kalaupun koperasi tidak ada, siswa akan semakin kerepotan untuk mencari alat tulis yang dibutuhkannya.
Kalau koperasi sekolah tidak diperkenankan mencari keuntungan, lantas bagaimana koperasi akan bisa membagikan SHU?
Bagaimana nih?
"E-Book" Sebuah Mimpi
Mulai tahun ajaran 2008-2009 Pemerintah menerapkan sebuah kebijakan yang sangat membagakan, yaitu penggunaan e-book sebagai pengganti buku cetakan. Sekolah-sekolah dilarang menyalurkan buku cetak yang dianggap sebagai bentuk pungutan liar. Sebenarnya sekolah menyalurkan buku adalah dengan tujuan mempermudah murid untuk mendapatkan buku yang harganyapun sama jika membeli ditoko buku. Buku yang dibeli secara bebas oleh orang tua di toko buku kadang-kadang tidak sama antara yang satu dengan yang lain. ini akan menimbulkan masalah baru dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru, ketika menggunakan buku yang sama, akan lebih mudah memberikan tugas belajar siswa dirumah.
Kembali ke e-book.
Pemerintah terlalu memaksakan penggunaan e-book sementara sarana dan prasarana untuh mengunduhnya belum memadai.
Di Jakarta saja sebagai Ibu Kota Negara masih sebagian kecil sekolah (SD) yang sudah mengakses internet. Kalaupun ada unit PC sebagai sarana mengunduh juga sangat terbatas, belum lagi SDM guru yang masih rendah dalam penggunaan IT.
Bagaimana dengan daerah lain?
Belum lama (5Agustus 2008) Saya membawakan materi dalam sebuah workshop untuk Kepsek SMPN SSN se KalSel. Ternyata dari 175 Kepsek yang hadir, hanya sekitar 25 sekolah yang sudah ada jaringan internet. Mereka bertugas di SMPN SSN, Bagaimana dengan SDnya. Tanpa mengadakan penelitianpun kita bisa menyimpulkan bahwa hampir semua SDN di Makasar belum mengakses Internet. Makasar sebagai sebuah ibu kota dan kota besar, masih kurang kesempatan memanfaatkan IT, bagaimana dengan daerah lain?
Kalaupun pemerintah sudah mampu menyiapkan semua sarana dan prasarananya, proses mengunduhnya pun tidak semudah yang kita bayangkan. Waktu untuk mengunduhnya memakan waktu yang tidak sedikit, Hasil unduhan harus kita perbanyak dengan cara memphoto copy, membutuhkan ongkos yang tidak sedikit pula. Dan hasil Photo Copy jelas tidak sesempurna dengan buku cetak. Jadi E-book masihlah sebuah mimpi.
Jalan yang paling aman adalah Pemerintah mencetak buku, model buku paket seperti yang digunakan waktu tahun 70-80 an.
Kembali ke e-book.
Pemerintah terlalu memaksakan penggunaan e-book sementara sarana dan prasarana untuh mengunduhnya belum memadai.
Di Jakarta saja sebagai Ibu Kota Negara masih sebagian kecil sekolah (SD) yang sudah mengakses internet. Kalaupun ada unit PC sebagai sarana mengunduh juga sangat terbatas, belum lagi SDM guru yang masih rendah dalam penggunaan IT.
Bagaimana dengan daerah lain?
Belum lama (5Agustus 2008) Saya membawakan materi dalam sebuah workshop untuk Kepsek SMPN SSN se KalSel. Ternyata dari 175 Kepsek yang hadir, hanya sekitar 25 sekolah yang sudah ada jaringan internet. Mereka bertugas di SMPN SSN, Bagaimana dengan SDnya. Tanpa mengadakan penelitianpun kita bisa menyimpulkan bahwa hampir semua SDN di Makasar belum mengakses Internet. Makasar sebagai sebuah ibu kota dan kota besar, masih kurang kesempatan memanfaatkan IT, bagaimana dengan daerah lain?
Kalaupun pemerintah sudah mampu menyiapkan semua sarana dan prasarananya, proses mengunduhnya pun tidak semudah yang kita bayangkan. Waktu untuk mengunduhnya memakan waktu yang tidak sedikit, Hasil unduhan harus kita perbanyak dengan cara memphoto copy, membutuhkan ongkos yang tidak sedikit pula. Dan hasil Photo Copy jelas tidak sesempurna dengan buku cetak. Jadi E-book masihlah sebuah mimpi.
Jalan yang paling aman adalah Pemerintah mencetak buku, model buku paket seperti yang digunakan waktu tahun 70-80 an.
Kamis, 07 Agustus 2008
Workshop TIK di Makasar
Pada tanggal 5 Agustus 2008 aku diberi kesempatan oleh Intel Indonesia untuk menyampaikan pengalamanku dalam menerapkan Intel Teach dalam pembelajaran.
Aku menjadi salah satu pembicara selain 2 dari Acer dan 1 dari Microsoft Indonesia.
Workshop yang diadakan di Ruang Crisant dan Tulip hotel Clarion, Makasar.
Ada 176 peserta dari 250 undangan menyesaki dua ruangan yang disiapkan oleh panitia.
Peserta terdiri dari Kepala Sekolah dan guru TIK SMPN SSN se Sulawesi Selatan. Ini adalah pengalaman pertamaku menghadapi kepala sekolah SMP dan guru TIK SMP.
Sebagai guru SD aku sebenarnya sedikit kurang percaya diri jika harus berhadapan dengan mereka. Namun diluar dugaan, sambutan mereka sangat positif. Mereka tidak melihat siapa yang sedang berbicara tetapi apa yang sedang dibicarakan/disampaikan. Aku sangat respek dengan sikap mereka. Mereka antusias sekali mendengarkan pengalamanku dalam menerapkan Intel Teach dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Mereka pun banyak bertanya tentang bagaimana penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar. Workshop kali ini menjadi ajang diskusi yang cukup mengesankan bagi diriku.
Rabu, 06 Agustus 2008
E-Learning di SDN Menteng 03
.jpg)
Bangsa yang maju adalah bangsa yang selalu mencari dan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mendukung kemajuannya. Informasi akan dapat dengan mudah apabila kita menguasai teknologinya. Teknologi Informasi adalah suatu keharusan yang tidak boleh tidak dikuasai oleh bangsa yang ingin maju. Penguasaan akan TI tidak bisa begitu saja, tapi perlu pembelajaran dan pembiasaan. Orang yang sudah terbiasa menggunakan TI akan menggunakan kemampuan tersebut untuk menggali informasi yang diperlukan untuk meningkatkan mutu hidupnya.
Saya yang mengajar disebuah SD di Jakarta sudah membiasakan anak untuk menggunakan TI dalam pembelajaran yang disebut dengan E-Learning.
Kami menyiapkan 2 buah lab TI. Satu Lab Komputer dengan 40 unit PC dekstop dan 1 lagi Lab CPC (Colaboration PC) dengan 50 unit student notebook dan satu unit notebook.
Di Lab CPC sudah tersambung dengan jaringan internet dan dipancarkan secara wireless.
Ketika Proses Belajar Mengajar berlangsung setiap siswa menghadapi unit CPC yang sudah terhubung dengan teacher notebook.
Guru mengklik konsol Screen Brodcast sehingga tampilan di screen guru akan muncul di screen siswa. Guru menginformasikan materi pelajaran yang dilanjutkan dengan mengirimkan LKS melalui File Distribution. Anak mengerjakan LKS dalam bentuk power point, sehinnga akan memudahkan siswa dalam mempresentasikan hasil kerjanya. Ketika mengerjakan LKS siswa bisa membuka internet untuk memecahkan masalah yang ada pada LKS.Menggunakan konsol Student Demontration, siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Selanjutnya siswa mengerjakan evaluasi menggunakan program Quiz and Test.
Saya yang mengajar disebuah SD di Jakarta sudah membiasakan anak untuk menggunakan TI dalam pembelajaran yang disebut dengan E-Learning.
Kami menyiapkan 2 buah lab TI. Satu Lab Komputer dengan 40 unit PC dekstop dan 1 lagi Lab CPC (Colaboration PC) dengan 50 unit student notebook dan satu unit notebook.
Di Lab CPC sudah tersambung dengan jaringan internet dan dipancarkan secara wireless.
Ketika Proses Belajar Mengajar berlangsung setiap siswa menghadapi unit CPC yang sudah terhubung dengan teacher notebook.
Guru mengklik konsol Screen Brodcast sehingga tampilan di screen guru akan muncul di screen siswa. Guru menginformasikan materi pelajaran yang dilanjutkan dengan mengirimkan LKS melalui File Distribution. Anak mengerjakan LKS dalam bentuk power point, sehinnga akan memudahkan siswa dalam mempresentasikan hasil kerjanya. Ketika mengerjakan LKS siswa bisa membuka internet untuk memecahkan masalah yang ada pada LKS.Menggunakan konsol Student Demontration, siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Selanjutnya siswa mengerjakan evaluasi menggunakan program Quiz and Test.
Jumat, 25 Juli 2008
Gandrung dengan IT
IT, bagi sebagian besar guru SD di Indonesia masih sangat Gaptek, hal ini disebabkan program pendidikan Keguruan di Indonesia yang kurang inovatif. Pemegang kebijakan pendidikan wawasannya cukup sempit sehingga produk pendidikan yang dilahirkan kurang bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman.
Ini salah siapa?
Kesalahan bisa terjadi disemua lini. Pemerintah yang mlempem, Anggota masyarakat yang cuek serta pelaku pendidikan sendiri yang tidak ada kemauan untuk berbenah.
Apa akibatnya?
Indonesia semakin tercecer diurutan belakang dari negara-negara lain dalam hal pendidikan.
Banyak tercetak sarjana-sarjana made in Indonesia yang tidak berkemampuan sesuai gelarnya, sehingga tidak aneh jika seseorang bergelar Ir bekerja di bidang pendidikan sementara S.Sos. ada yang menjadi buruh pabrik.
Harusnya bagaimana?
Sadar.
Menyadari peran masing-masing sesuai kapasitasnya masing-masing .
Pemerintah harus membuat perencanaan yang matang dan berwawasan kedepan. Jangan hanya membuat program yang hanya bisa dinikmati untuk 10 tahun kedepan.
Bagaimana sebuah program yang disusun sehingga pendidikan senantiasa inovatif dan bisa menysuaikan dengan jaman sampai berpuluhtahun kalau perlu beratus tahun kedepan.
Masyarakat harus mengawasi pemerintah agar bekerja dengan baik sehingga terkontrol dengan baik.
Individu, dalam hal ini guru yang berkecimpung langsung di garda terdepan, jangan merasa puas sudah menggenggam gelar S.Pd. Guru harus mau terus mengembankan dirinya agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Majulah terus guru.
Ini salah siapa?
Kesalahan bisa terjadi disemua lini. Pemerintah yang mlempem, Anggota masyarakat yang cuek serta pelaku pendidikan sendiri yang tidak ada kemauan untuk berbenah.
Apa akibatnya?
Indonesia semakin tercecer diurutan belakang dari negara-negara lain dalam hal pendidikan.
Banyak tercetak sarjana-sarjana made in Indonesia yang tidak berkemampuan sesuai gelarnya, sehingga tidak aneh jika seseorang bergelar Ir bekerja di bidang pendidikan sementara S.Sos. ada yang menjadi buruh pabrik.
Harusnya bagaimana?
Sadar.
Menyadari peran masing-masing sesuai kapasitasnya masing-masing .
Pemerintah harus membuat perencanaan yang matang dan berwawasan kedepan. Jangan hanya membuat program yang hanya bisa dinikmati untuk 10 tahun kedepan.
Bagaimana sebuah program yang disusun sehingga pendidikan senantiasa inovatif dan bisa menysuaikan dengan jaman sampai berpuluhtahun kalau perlu beratus tahun kedepan.
Masyarakat harus mengawasi pemerintah agar bekerja dengan baik sehingga terkontrol dengan baik.
Individu, dalam hal ini guru yang berkecimpung langsung di garda terdepan, jangan merasa puas sudah menggenggam gelar S.Pd. Guru harus mau terus mengembankan dirinya agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Majulah terus guru.
Jumat, 11 Juli 2008
Pagi yang Cerah
Pagi ini, Sabtu 12 Juli 2008 seperti biasa seusai sholat subuh aku berjalan menuju Stasiun KRL.
Seperti biasa kupesan sebuah harian ibu kota yang senantiasa menemaniku dalam perjalananku menuju medan perjuangan. Tepat pukul 05.10 KRL kesayanganku memasuki stasiun Citayam dengan gagahnya. Seperti biasa aku dan penumpang lain berebut untuk memasuki gerbongnya. Siapa yang masuk duluan bisa mencaritempat yang sedikit nyaman. Sementara yang masuk belakangan bersiaplah berdiri di pintu. Aku segera menyelinap ke tengah gerbong dimana disana
teman-teman mengobrolku sudah duduk manis ditempatnya masing-masing. Aku segera mengambil tempat dihadapan mereka dan bersiap-siap membuka koran yang ku beli tadi. Sepanjang perjalanan kubaca berita mengenai politik, ekonomi, olahraga dan internasional.
Perjalanan dari Citayam ke Cikini sekitar 40 menit. Akupun turun dari KRL yang penuh sesak dengan penumpang yang berjubel baik didalam maupun di atap gerbong. Aroma keringat bercampur minyak wangi adalah hal yang biasa. Pagi yang cerah tetap cerah.
Seperti biasa kupesan sebuah harian ibu kota yang senantiasa menemaniku dalam perjalananku menuju medan perjuangan. Tepat pukul 05.10 KRL kesayanganku memasuki stasiun Citayam dengan gagahnya. Seperti biasa aku dan penumpang lain berebut untuk memasuki gerbongnya. Siapa yang masuk duluan bisa mencaritempat yang sedikit nyaman. Sementara yang masuk belakangan bersiaplah berdiri di pintu. Aku segera menyelinap ke tengah gerbong dimana disana
teman-teman mengobrolku sudah duduk manis ditempatnya masing-masing. Aku segera mengambil tempat dihadapan mereka dan bersiap-siap membuka koran yang ku beli tadi. Sepanjang perjalanan kubaca berita mengenai politik, ekonomi, olahraga dan internasional.
Perjalanan dari Citayam ke Cikini sekitar 40 menit. Akupun turun dari KRL yang penuh sesak dengan penumpang yang berjubel baik didalam maupun di atap gerbong. Aroma keringat bercampur minyak wangi adalah hal yang biasa. Pagi yang cerah tetap cerah.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)


