Jumat, 25 Juli 2008

Gandrung dengan IT

IT, bagi sebagian besar guru SD di Indonesia masih sangat Gaptek, hal ini disebabkan program pendidikan Keguruan di Indonesia yang kurang inovatif. Pemegang kebijakan pendidikan wawasannya cukup sempit sehingga produk pendidikan yang dilahirkan kurang bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman.
Ini salah siapa?
Kesalahan bisa terjadi disemua lini. Pemerintah yang mlempem, Anggota masyarakat yang cuek serta pelaku pendidikan sendiri yang tidak ada kemauan untuk berbenah.
Apa akibatnya?
Indonesia semakin tercecer diurutan belakang dari negara-negara lain dalam hal pendidikan.
Banyak tercetak sarjana-sarjana made in Indonesia yang tidak berkemampuan sesuai gelarnya, sehingga tidak aneh jika seseorang bergelar Ir bekerja di bidang pendidikan sementara S.Sos. ada yang menjadi buruh pabrik.
Harusnya bagaimana?
Sadar.
Menyadari peran masing-masing sesuai kapasitasnya masing-masing .
Pemerintah harus membuat perencanaan yang matang dan berwawasan kedepan. Jangan hanya membuat program yang hanya bisa dinikmati untuk 10 tahun kedepan.
Bagaimana sebuah program yang disusun sehingga pendidikan senantiasa inovatif dan bisa menysuaikan dengan jaman sampai berpuluhtahun kalau perlu beratus tahun kedepan.
Masyarakat harus mengawasi pemerintah agar bekerja dengan baik sehingga terkontrol dengan baik.
Individu, dalam hal ini guru yang berkecimpung langsung di garda terdepan, jangan merasa puas sudah menggenggam gelar S.Pd. Guru harus mau terus mengembankan dirinya agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Majulah terus guru.

Jumat, 11 Juli 2008

Pagi yang Cerah

Pagi ini, Sabtu 12 Juli 2008 seperti biasa seusai sholat subuh aku berjalan menuju Stasiun KRL.
Seperti biasa kupesan sebuah harian ibu kota yang senantiasa menemaniku dalam perjalananku menuju medan perjuangan. Tepat pukul 05.10 KRL kesayanganku memasuki stasiun Citayam dengan gagahnya. Seperti biasa aku dan penumpang lain berebut untuk memasuki gerbongnya. Siapa yang masuk duluan bisa mencaritempat yang sedikit nyaman. Sementara yang masuk belakangan bersiaplah berdiri di pintu. Aku segera menyelinap ke tengah gerbong dimana disana
teman-teman mengobrolku sudah duduk manis ditempatnya masing-masing. Aku segera mengambil tempat dihadapan mereka dan bersiap-siap membuka koran yang ku beli tadi. Sepanjang perjalanan kubaca berita mengenai politik, ekonomi, olahraga dan internasional.
Perjalanan dari Citayam ke Cikini sekitar 40 menit. Akupun turun dari KRL yang penuh sesak dengan penumpang yang berjubel baik didalam maupun di atap gerbong. Aroma keringat bercampur minyak wangi adalah hal yang biasa. Pagi yang cerah tetap cerah.