Beberapa waktu lalu, kami guru-guru SDN Menteng 03 mempunyai kesempatan untuk menikmati keindahan dan kemajuan negeri kaya raya yang ada di sebelah utara negara kita ini. Banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan.
Perjalanan kami awali dengan menumpang Air Asia dari Bandara Sokarno-Hatta menuju Bandara Hang Nadim di Pulau Batam. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk terbang di angkasa, satu pengalaman yang amat berkesan, yang mungkin tidak akan terpikirkan jika naik pesawat dengan uang dari kocek sendiri. Dari angkasa kami sempat mengamati betapa indahnya bumi nusantara di lihat dari angkasa. Banyak perahu nelayan tampak membelah lautan mencari ikan. kapal-kapal besar menelusuri samudera nan biru.
Keindahan mulai pudar ketika kami melihat beberapa pulau di kawasan kepulauan Riau, mulai tampak gersang hanya hamparan tanah luas tanpa tetumbuhan hijau yang menyelimutinya. Saya baru mengerti bahwa apa yang ditulis di media massa memang benar adanya. Bahwa ada segelintir manusia Indonesia yang memanfaatkan kekuasaan untuk memnuhi kepentingan pribadi dengan menggunakan aji mumpung. Mumpung berkuasa, mumpung ada kesempatan maka dikeruklah kekayaan tanah air ini dengan rakusnya tanpa memperhatikan lingkungan.
Pesawat mendarat di Hang Nadim pada pukul 14.25 atau 105 menit setelah landing di Bandara Soekarno Hatta. Di sini kami makan siang sambil menikmati keindahan kota Batam. Kami juga sempat mengunjugi beberapa tempat belanja yang cukup terkenal terutama di kawasan Nagoya, Batam Center
pada pukul 17.30 rombongan kami menuju Pelabuhan Batam untuk menyeberang ke Singapura. Pada pukul 18.30 kapal ferry yang kami tumpangi merapat di Harbour Front. Setelah melalui pemeriksaan yang lebih ketat dibandingkan di Batam maupun Bandara Soekarno Hatta, kami sudah dijemput oleh sebuah bus wisata lengkap dengan guide.
Tempat yang kami kunjungi pertama adalah sebuah rumah makan, yaitu rumah makan Kediri. Makanan yang disediakan disini sama dengan apa yang biasa kita temukan di Indonesia, mulai dari nasi rawon sampai gule dan satenya.
Selesai santap malam kami meluncur ke hotel Metropolitan YMCA di Stevens Road. Saya mendapatkan sebuah kamar dengan nomor 314 yang ada di lantai 3.
Selesai mandi saya bersama tiga orang teman pergi berjalan-jalan disekitar hotel (takut nyasar). Suasana hujan membuat gerak kami tidak leluasa. Tidak jauh dari hotel ada carrefour yang berlokasi di 3 Temasek Boulevard,. Dengan sedikit berbasah-basahan kami berlari-lari menuju kesana. Setelah mendapatkan beberapa barang yang harganya lebih mahal di bandingkan di Indonesia (sama-sama Carrefour) kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat.
Keesokan harinya, setelah kami sarapan kami menuju ke Patung Merlion dan Esplanade. Ini adalah tempat yang harus dikunjungi kalau ke Singapura. Ini adalah simbol negara Singapura. Setiap wisatawan yang datang ke Singapura pasti berlomba-lomba untuk foto disini. Di tempat ini ada banyak objek bagus untuk difoto sebagai kenang-kenangan. Kalau ngga kesini dan foto disini sama aja ga ke Singapore.
Sejarah Merlion
Merlion pertama kali dirancang sebagai lambang Singapore Tourist Promotion Board (STPB) di tahun 1964 – dan sang kepala singa dengan badan ikan di atas puncak ombak ini segera menjadi ikon Singapura bagi dunia.
Dirancang oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singanya melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.
Image Source www.visitsingapore.com
Image Source www.visitsingapore.com
Berukuran tinggi 8,6 meter dan berbobot 70 ton, patung Merlion ini dibangun dari campuran semen oleh seniman Singapura, almarhum Mr. Lim Nang Seng. Patung Merlion kedua yang lebih kecil, berukuran tinggi dua meter dan berbobot tiga ton, juga dibangun oleh Mr. Lim. Bagian badannya terbuat dari campuran semen, kulitnya dari pelat porselen dan matanya dari cangkir teh kecil berwarna merah.
Rumahnya yang pertama Merlion dan anaknya, “Cub”, awalnya terletak di muka Singapore River, tepat di seberang Elizabeth Walk, hanya 120 meter dari lokasinya yang sekarang. Area yang juga disebut sebagai Merlion Park ini segera menjadi tempat atraksi wisata yang populer, dan menjadi salah satu tempat-tempat terkenal di kota-kota besar dunia. Perdana Menteri Singapura pada waktu itu, Mr. Lee Kuan Yew, meresmikan upacara pemasangan Merlion ini pada tanggal 15 September 1972. Sebuah prasasti perunggu mengabadikan peristiwa bahagia tersebut dengan tulisan, “Merlion ini didirikan sebagai lambang untuk menyambut semua pengunjung ke Singapura.”
Saat ini, Merlion menarik lebih dari satu juta pengunjung setahun, yang datang ke Merlion Park untuk mengambil foto ikon terkenal dunia ini di rumahnya yang baru, di samping One Fullerton.
Image Source www.visitsingapore.com
Lokasi Patung Merlion Rumah Merlion yang baru terletak bersebelahan dengan One Fullerton, sebuah taman seluas 2.500 meter persegi yang baru saja dibangun. Di One Fullerton, terdapat aneka restoran, lounge, dan klub dansa di tepi sungai.
Area ini juga memiliki sebuah tanjung dengan teras tempat duduk dan sebuah dek untuk menonton yang sanggup menahan sampai 300 orang, serta sebuah tempat pendaratan kapal sehingga pengunjung dapat turun dari taksi kapal. Dek ini memberi panorama sang Merlion yang terbaik bagi para fotografer, dengan latar belakang cakrawala kota dan Marina Bay yang indah, termasuk gedung-gedung landmark seperti The Fullerton Singapore dan Esplanade - Theatres on the Bay.
Image Source www.visitsingapore.com
Merlion Cub terletak 28 meter di belakang sang Merlion. Dipasang pula sebuah sistem pompa untuk Merlion dan anak Merlion, sehingga dapat menyemburkan air sepanjang hari dan malam.
Cara ke Sana Anda dapat berjalan di tepi sungai Singapura dari Raffles Place MRT Station, ambil Exit H lalu ikuti petunjuk arah pada peta di bawah ini. Jalur merah sedikit memutar akan tetapi ada banyak pemandangan yang luar biasa disepanjang perjalanan menuju Merlion Park, untuk jalur biru adalah jalur cepat (shortcut) untuk bisa mencapai Merlion Park dengan cepat. Klik di sini Singapura MRT map untuk melihat peta rute MRT.
Dirancang oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singanya melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.
Image Source www.visitsingapore.com
Image Source www.visitsingapore.com
Berukuran tinggi 8,6 meter dan berbobot 70 ton, patung Merlion ini dibangun dari campuran semen oleh seniman Singapura, almarhum Mr. Lim Nang Seng. Patung Merlion kedua yang lebih kecil, berukuran tinggi dua meter dan berbobot tiga ton, juga dibangun oleh Mr. Lim. Bagian badannya terbuat dari campuran semen, kulitnya dari pelat porselen dan matanya dari cangkir teh kecil berwarna merah.
Rumahnya yang pertama Merlion dan anaknya, “Cub”, awalnya terletak di muka Singapore River, tepat di seberang Elizabeth Walk, hanya 120 meter dari lokasinya yang sekarang. Area yang juga disebut sebagai Merlion Park ini segera menjadi tempat atraksi wisata yang populer, dan menjadi salah satu tempat-tempat terkenal di kota-kota besar dunia. Perdana Menteri Singapura pada waktu itu, Mr. Lee Kuan Yew, meresmikan upacara pemasangan Merlion ini pada tanggal 15 September 1972. Sebuah prasasti perunggu mengabadikan peristiwa bahagia tersebut dengan tulisan, “Merlion ini didirikan sebagai lambang untuk menyambut semua pengunjung ke Singapura.”
Saat ini, Merlion menarik lebih dari satu juta pengunjung setahun, yang datang ke Merlion Park untuk mengambil foto ikon terkenal dunia ini di rumahnya yang baru, di samping One Fullerton.
Image Source www.visitsingapore.com
Lokasi Patung Merlion Rumah Merlion yang baru terletak bersebelahan dengan One Fullerton, sebuah taman seluas 2.500 meter persegi yang baru saja dibangun. Di One Fullerton, terdapat aneka restoran, lounge, dan klub dansa di tepi sungai.
Area ini juga memiliki sebuah tanjung dengan teras tempat duduk dan sebuah dek untuk menonton yang sanggup menahan sampai 300 orang, serta sebuah tempat pendaratan kapal sehingga pengunjung dapat turun dari taksi kapal. Dek ini memberi panorama sang Merlion yang terbaik bagi para fotografer, dengan latar belakang cakrawala kota dan Marina Bay yang indah, termasuk gedung-gedung landmark seperti The Fullerton Singapore dan Esplanade - Theatres on the Bay.
Image Source www.visitsingapore.com
Merlion Cub terletak 28 meter di belakang sang Merlion. Dipasang pula sebuah sistem pompa untuk Merlion dan anak Merlion, sehingga dapat menyemburkan air sepanjang hari dan malam.
Cara ke Sana Anda dapat berjalan di tepi sungai Singapura dari Raffles Place MRT Station, ambil Exit H lalu ikuti petunjuk arah pada peta di bawah ini. Jalur merah sedikit memutar akan tetapi ada banyak pemandangan yang luar biasa disepanjang perjalanan menuju Merlion Park, untuk jalur biru adalah jalur cepat (shortcut) untuk bisa mencapai Merlion Park dengan cepat. Klik di sini Singapura MRT map untuk melihat peta rute MRT.
Seteleh berfoto ria kamipun melanjutkan perjalanan sesuai program dari guide, yaitu ke Orchad Road. Inilah surga bagi para shopaholic (penggila shopping). Disepanjang jalan Orchard Road ini berdiri mall-mall megah. Segala merk fashion internasional dijual disini. Katanya sih semua barang merk yang ngetop disini pasti lebih murah daripada di Indonesia. Maka dari itu artis dan orang kaya Indonesia banyak sekali yang belanja disini. Jadi jangan aneh kalau lagi jalan disepanjang jalan Orchard ini anda akan sering bertemu dengan orang-orang Indonesia.
Kalau Jakarta punya Mangga Dua, Singapore punya saingannya yaitu Bugis Street. Disini ada banyak menjual barang-barang dengan harga murah, seperti halnya di Mangga Dua. Akan tetapi jangan bayangkan Bugis Street ini bentuknya seperti Mangga Dua, Bugis Street sebenarnya nama jalan, tapi sekarang udah berubah menjadi tempat shopping jalanan terbesar di Singapura. Jadi kalau mau shopping disini siap-siap aja berpanas-panas ria karena tidak ada AC.
Seluruh dunia di setiap kota besarnya pasti ada chinatown, begitu juga dengan Singapore. Disini ada banyak toko-toko yang menjual souvenir-souvenir yang memiliki hubungan dengan budaya Cina, yang pasti tidak ketinggalan souvenir khas Singapura. Selain toko-toko souvenir ada juga restaurant chinese, pub, kelenteng, kuil hindu dan juga hotel-hotel murah. Salah satu yang terkenal adalah tempat jajan atau makannya, dimana satu jalan khusus ditutup untuk dijadikan tempat makanan, sebutannya ChinaTown Food Street.
Kampung Bugis
Mendengar nama Bugis Junction, seketika otak kita langsung berkelana mempertanyakan, ada hubungan apa antara tempat ini dengan bangsa Bugis yang merupakan satu di antara nama suku di Indonesia. Apakah dahulunya tempat ini menjadi tujuan para pengembara dari bangsa Bugis di pulau Singapura?
Jauh sebelum tahun 50-an, daerah ini memang menjadi tujuan para pelaut Bugis yang berdagang dengan para penduduk Singapura. Kampung Bugis atau yang disebut Bugis Village demikian tempat ini dijuluki, di antara kurun waktu tahun 50-an hingga 80-an bahkan sempat menjadi tempat hiburan malam yang berciri khas adanya keberadaan waria.
Namun siapa menyangka, kini kawasan ini telah berubah menjadi kawasan tempat tinggal di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit. Kini yang ada adalah kesan canggih dengan deretan ruko dan kompleks pertokoan yang telah direnovasi.
Bukan berarti semua bangunan di kawasan ini kemudian disingkirkan berganti gedung-gedung pencakar langit. Justru dengan tetap mempertahankan beberapa bentuk bangunan yang ada, kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Jika kita melangkahkan kaki menyeberangi Bugis Junction, gedung-gedung lama ini masih nampak berdiri dalam beberapa ruas jalan yang menyerupai gang. Namun meski letaknya berdempetan, jangan bayangkan kesan kumuh. Yang ada, justru kita bisa menyantap dan bersantai di beberapa kopitiam atau kedai kopi yang ada di area tersebut.
Untuk Anda yang ingin mengunjungi kawasan ini, bisa menempuh tempat ini dengan menggunakan MRT dan turun di Stasiun Bugis (EW12).
Aneka Souvenir sampai Sex Store
Singapura ternyata masih menyisakan sebuah bentuk pasar yang jika di Batam, seperti pasar tradisional atau bahkan pasar malam. Letaknya di seberang Parco Bugis Junction. Begitu memasuki area ini, berbagai barang langsung menggoda mata kita untuk meliriknya.
Mulai dari santapan buah-buahan segar yang dijus maupun yang masih tersaji utuh, bisa didapatkan di bagian ujung masuk dan keluar dari pasar ini. Makin masuk ke dalam, giliran berbagai souvenir menggoda kocek kantong kita.
Jika Anda yang ingin membelikan barang-barang souvenir bagi sanak saudara atau teman, tinggal pilih saja. Ada aneka bentuk giok yang dibuat menjadi berbagai macam perhiasan atau pajangan.
Ingin mencari souvenir khas Singapura lainnya, bisa juga melirik gantungan kunci, zippo, atau jam tangan yang dicetak dengan bentuk Merlion, patung singa bertubuh ikan khas Singapura. Aneka tas atau baju berbagai model juga bisa didapatkan di tempat ini. Uniknya, bahkan ada sebuah Sex Store yang buka di tempat ini.
Mall Berkaca Pertama Di Singapura
Satu lagi tempat belanja yang bisa dituju adalah Parco Bugis Junction. Uniknya, tempat ini merupakan tempat belanja ber AC dengan penutup kaca pertama di Singapura. Jadi meski di bawah siraman panas matahari, pengunjung yang berjalan-jalan di Parco Bugis Junction masih tetap merasakan keteduhan dan kesejukan.
Di pusat perbelanjaan ini, para pengunjung bisa mengunjungi berbagai toko yang menjual segala macam barang elektronik sampai pakaian, hingga pernak pernik aksesoris. Apalagi untuk mereka yang menyukai aneka pakaian berlabel khusus, Parco Bugis Junction tempatnya. Misalnya bagi para pengoleksi aneka produk bertemakan Astro Boy sampai Superman, bisa melengkapi koleksinya di tempat ini.
Sebagai tempat hiburan, Parco Bugis Junction juga memiliki bioskop cineplex. Sedangkan untuk anak-anak, bisa diajak untuk bermain dengan air di water boom. Air mancur yang keluar secara tiba-tiba dari bawah ini sangat disukai oleh kebanyakan anak-anak karena mereka bsa bermain dan menebak air dari celah mana yang akan keluar.
Krishna dan Kwan Im Bertetangga
Jika ingin berjalan sedikit dari pasar Bugis Junction, Anda bisa menemukan dua tempat peribadatan agama yang berbeda, Krishnan Temple dan Kwan Im Thong Hood Cho Temple. Letaknya berdekatan dan hanya terpisah beberapa meter saja. Di sekitarnya, berjajar beberapa toko yang menjual alat-alat ibadah Buddha serta souvenir untuk wisatawan.
Terutama di dekat Kwan Im Thong Hood Cho Temple, Anda bisa menemukan berbagai penjual bunga mulai dari crysant sampai teratai yang rata-rata dijual satu dolar Singapura per batangnya. Para penjual ini akan makin banyak ditemui jika tiba waktunya sembahyang cu it dan cap goh atau awal dan pertengahan bulan kalender Tionghoa. Karena, bunga-bunga ini biasanya digunakan oleh para pengunjung yang datang untuk bersembahyang.
Di kala sore hari, area di sekitar kuil ini juga menjadi tempat untuk bersantai dari orang muda sampai yang tua. Khususnya bagi para lansia, tempat ini juga menjadi tempat untuk memanjakan diri dengan hiburan berciri khas budaya mandarin. Para pengunjung bisa memesan lagu apa saja kepada para pemusik jalanan yang juga kebanyakan para lanjut usia ini.
Satu lagi sudut yang paling banyak dikunjungi oleh pengunjung adalah patung Buddha Maitreya. Dipercaya, mereka yang menyentuh tubuh patung ini seperti kepala dan perutnya, bisa memperoleh rezeki nantinya.
Jauh sebelum tahun 50-an, daerah ini memang menjadi tujuan para pelaut Bugis yang berdagang dengan para penduduk Singapura. Kampung Bugis atau yang disebut Bugis Village demikian tempat ini dijuluki, di antara kurun waktu tahun 50-an hingga 80-an bahkan sempat menjadi tempat hiburan malam yang berciri khas adanya keberadaan waria.
Namun siapa menyangka, kini kawasan ini telah berubah menjadi kawasan tempat tinggal di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit. Kini yang ada adalah kesan canggih dengan deretan ruko dan kompleks pertokoan yang telah direnovasi.
Bukan berarti semua bangunan di kawasan ini kemudian disingkirkan berganti gedung-gedung pencakar langit. Justru dengan tetap mempertahankan beberapa bentuk bangunan yang ada, kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Jika kita melangkahkan kaki menyeberangi Bugis Junction, gedung-gedung lama ini masih nampak berdiri dalam beberapa ruas jalan yang menyerupai gang. Namun meski letaknya berdempetan, jangan bayangkan kesan kumuh. Yang ada, justru kita bisa menyantap dan bersantai di beberapa kopitiam atau kedai kopi yang ada di area tersebut.
Untuk Anda yang ingin mengunjungi kawasan ini, bisa menempuh tempat ini dengan menggunakan MRT dan turun di Stasiun Bugis (EW12).
Aneka Souvenir sampai Sex Store
Singapura ternyata masih menyisakan sebuah bentuk pasar yang jika di Batam, seperti pasar tradisional atau bahkan pasar malam. Letaknya di seberang Parco Bugis Junction. Begitu memasuki area ini, berbagai barang langsung menggoda mata kita untuk meliriknya.
Mulai dari santapan buah-buahan segar yang dijus maupun yang masih tersaji utuh, bisa didapatkan di bagian ujung masuk dan keluar dari pasar ini. Makin masuk ke dalam, giliran berbagai souvenir menggoda kocek kantong kita.
Jika Anda yang ingin membelikan barang-barang souvenir bagi sanak saudara atau teman, tinggal pilih saja. Ada aneka bentuk giok yang dibuat menjadi berbagai macam perhiasan atau pajangan.
Ingin mencari souvenir khas Singapura lainnya, bisa juga melirik gantungan kunci, zippo, atau jam tangan yang dicetak dengan bentuk Merlion, patung singa bertubuh ikan khas Singapura. Aneka tas atau baju berbagai model juga bisa didapatkan di tempat ini. Uniknya, bahkan ada sebuah Sex Store yang buka di tempat ini.
Mall Berkaca Pertama Di Singapura
Satu lagi tempat belanja yang bisa dituju adalah Parco Bugis Junction. Uniknya, tempat ini merupakan tempat belanja ber AC dengan penutup kaca pertama di Singapura. Jadi meski di bawah siraman panas matahari, pengunjung yang berjalan-jalan di Parco Bugis Junction masih tetap merasakan keteduhan dan kesejukan.
Di pusat perbelanjaan ini, para pengunjung bisa mengunjungi berbagai toko yang menjual segala macam barang elektronik sampai pakaian, hingga pernak pernik aksesoris. Apalagi untuk mereka yang menyukai aneka pakaian berlabel khusus, Parco Bugis Junction tempatnya. Misalnya bagi para pengoleksi aneka produk bertemakan Astro Boy sampai Superman, bisa melengkapi koleksinya di tempat ini.
Sebagai tempat hiburan, Parco Bugis Junction juga memiliki bioskop cineplex. Sedangkan untuk anak-anak, bisa diajak untuk bermain dengan air di water boom. Air mancur yang keluar secara tiba-tiba dari bawah ini sangat disukai oleh kebanyakan anak-anak karena mereka bsa bermain dan menebak air dari celah mana yang akan keluar.
Krishna dan Kwan Im Bertetangga
Jika ingin berjalan sedikit dari pasar Bugis Junction, Anda bisa menemukan dua tempat peribadatan agama yang berbeda, Krishnan Temple dan Kwan Im Thong Hood Cho Temple. Letaknya berdekatan dan hanya terpisah beberapa meter saja. Di sekitarnya, berjajar beberapa toko yang menjual alat-alat ibadah Buddha serta souvenir untuk wisatawan.
Terutama di dekat Kwan Im Thong Hood Cho Temple, Anda bisa menemukan berbagai penjual bunga mulai dari crysant sampai teratai yang rata-rata dijual satu dolar Singapura per batangnya. Para penjual ini akan makin banyak ditemui jika tiba waktunya sembahyang cu it dan cap goh atau awal dan pertengahan bulan kalender Tionghoa. Karena, bunga-bunga ini biasanya digunakan oleh para pengunjung yang datang untuk bersembahyang.
Di kala sore hari, area di sekitar kuil ini juga menjadi tempat untuk bersantai dari orang muda sampai yang tua. Khususnya bagi para lansia, tempat ini juga menjadi tempat untuk memanjakan diri dengan hiburan berciri khas budaya mandarin. Para pengunjung bisa memesan lagu apa saja kepada para pemusik jalanan yang juga kebanyakan para lanjut usia ini.
Satu lagi sudut yang paling banyak dikunjungi oleh pengunjung adalah patung Buddha Maitreya. Dipercaya, mereka yang menyentuh tubuh patung ini seperti kepala dan perutnya, bisa memperoleh rezeki nantinya.
Bersambung






.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

