Rabu, 27 Mei 2015

Tea Walk

Teawalk di Gunung Mas hari Sabtu pagi, itu bunyi sms dari ibu bos di awal bulan kemarin. Dapat berita ini antara senang karena akan ada selingan ke daerah hijau, dari dulu nggak bisa lihat perkebunan teh nganggur, pasti mampir buat foto-foto, seperti di kebun teh Kayu Aro, Sumbar atau di Ciwidey. Selain senang tetapi juga agak sedikit khawatir, karena kesehatan kaki dan sendi agak terganggu beberapa minggu lalu.
Pertama kali ikut teawalk sudah hampir sepuluh tahun, tentu kondisi fisik dahulu dengan sekarang berbeda ya, apalagi sudah jarang olahraga. Jangan takut duluan ah kataku menyemangati diri sendiri, kok mau kalah sebelum bertanding?
Teawalk, olahraga dan jalan di perkebunan teh. Perkebunan teh itu kan hijau sejauh mata memandang dan pasti udaranya segar karena terletak di dataran tinggi. Lokasi agrowisata dan teawalk ini di perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII, di Gunung Mas (800-1200 m dpl)  lebih kurang 80 km dari Jakarta.  Tepatnya lokasi di jalan raya Puncak km 87.
Di kompleks agrowisata ini tersedia penginapan  yang terbuat dari kayu kelapa. Asri sekali, sayang susah sekali mendaftar ke sini, musti berbulan-bulan sebelumnya. Laris manis ya. Selain ada penginapan, kafe,  pengunjung juga bisa melihat proses pengolahan teh di pabriknya.
Rute teawalk ada beberapa  jarak, kami hanya ikut di jarak terpendek saja, 6
 Sebelum berangkat, Mustari, Agus Lumban toruan, Maman Suparman, dan Hary Pujianto, bergaya dulu
 Mustari, Agus Lumban Toruan, maman Suparman, Wimboh Nugroho dan Luki
 Semangat tinggi, Luki, Maman Suparman, Agus Lumban Toruan, Hary Pujianto dan Wimboh Nugroho
 Hary Pujianto dan Wimboh Nugroho
 Hary Pujianto bersiap-siap untuk start
 Maman Suparman sedang warming up diawasi oleh Hary Pujianto dan Mustari
 Mustari melakukan peregangan... Hary Pujianto menyiapkan kameranya.
 Mustari Nyaris Pingsan dalam perjalanan
 Tetap ceria meskipun lelah... Agus Lumban Toruan
 Narsis tetap dilakukan dalam perjalanan Hary Pujianto
 Jatah makan siang setelah Tea Walk
 Semangatnya setelah jatah ditangan
km. Start dari lapangan tempat berkumpul, kami mengikuti pemandu. Kami dibawa jalan menuju perkebunan melewati rumah-rumah pegawai di mana jalannya diperkeras dengan batu-batu, cukup sulit juga melangkahkan kaki, serasa berjalan di batu refleksi. Setelah melewati perumahan, barulah terlihat hamparan hijau pohon-pohon teh. Pagi itu tak terlihat para ibu pemetik teh. Suasana hijau seperti ini nih yang selalu kurindukan bila sudah lama tak berlibur.
Jalan mulai agak menanjak, mula-mula langkahku sih masih tegap dan teratur, namun lama kelamaan mulai nafas ngos-ngosan, ketahuan tak pernah olahraga, terlihat nyata perbedaan kondisi fisik dibanding sepuluh tahun lalu. Mau berhenti malu he..he…, jadi pakai taktik dong, pura-pura potret pemandangan. Kalau tak sanggup lanjut tak apa kok, ada team kesehatan yang siaga, selain itu ojek motor ngetem di beberapa titik, siap evakuasi. Untunglah bisa tetap bertahan sampai finish.

KARTINIAN

Setiap tanggal 21 April masyarakat Indonesia  mengadakan perayaan hari Kartini. Kartini sanagt berjasa bagi perjuangan kaum wanita dalam gerakan penyetaraan gender yang hingga kini masih diperjuangkan oleh wanita-wanita moderen 


Ayah Kartini sendiri awalnya hanyalah seorang wedana (sekarang pembantu Bupati) di Mayong. Pada masa itu, pihak kolonial Belanda mewajibkan siapapun yang menjadi bupati harus memiliki bangsawan sebagai istrinya, dan karena M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan, ayahnya kemudian menikah lagi dengan Radeng Adjeng Moerjam, wanita yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Pernikahan tersebut juga langsung mengangkat kedudukan ayah Kartini menjadi bupati, menggantikan ayah dari R.A. Moerjam, yaitu Tjitrowikromo.
Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini. Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.
Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.
Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan bupati Rembang oleh orangtuanya. Bupati yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini sebelumnya sudah memiliki istri, namun ternyata suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.
Pemikiran dan Surat-Surat Kartini
Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada tahun 1911, dan cetakan terakhir ditambahkan sebuah surat “baru” dari Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran” dengan bahasa Melayu. Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakansejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.
Murid dan guru SDN Menteng 03 banyak melakukan kegiatan dalam rangka mengisi hari Kartini.
                        Miss Tri, Dewi Hary Pujianto, Azani, Akhmad Solikhin, Mustari, dan Sumadi